Ayat-ayat cinta
Membaca novelnya Habiburahman yang dasyat itu yang sebelumnya tak pernah aku kenal, malah aku melihat filmnya dulu baru mencari novelnya. Aku teringat kisah seorang sahabat yang kini berbahagia dengan keteguhan hati dan kesederhanaanya menghadapi hidup.
Fahri Abdulallah dalam kisah itu adalah seorang sarjana Al-Azhar yang sedang menyelesaikan S2, Sementara Anshory sahabatku hanya seorang lulusan SD. Namun setelah aku pahami betapa mereka memiliki kesamaan. KETEGUHAN!.
YA!. Mungkin itulah kehebatan dua sosok itu, walau Fahri hanya sosok jelmaan Habiburahman. Fahri begitu kaya akan ilmu agama dan mampu mengaplikasikannya dalam hidupnya sehari-hari. Dalam Kepolosan dan kesederhanaannya ditambah ilmu agamanya dia telah menjadi sosok yang begitu ditunggu kehadirannya!. Subhanallah. Padahal dia tidak bermaksud untuk itu dia hanya mencari keridho’an-Nya semata.
Anshory. Di mata ku dan banyak teman remaja masjid hanya sosok lemah, terlihat egois!. Tangannya seolah sangat berat untuk ikut mengepel lantai masjid setiap ba’da kuliah subuh setiap hari ahad. Dia hanya asyik meneruskan khataman Qur’an. Egois!.
Yang kini aku pahami. Mungkin dalam hatinya Anshory saat itu untuk apa ikut kerja bakti bila hanya untuk mencari perhatian para akhwat?.Yang hanya akan mengotori hatinya. Itulah yang banyak dilakukan para Ikhwan termasuk aku!.
Fahri disela keseharian sibuknya masih mampu menyempatkan menimba ilmu dari sumur yang melimpah ruah. Dalam panas dan badai debu padang pasir dia tetap istiqomah pada janji. Janji seorang murid pada gurunya, janji seorang anak pada orang tuanya bahwa ia harus berhasil ditanah para Nabi itu walau tubuhnya didera kesakitan.
Fahri selain belajar di Al-Azhar nyambi sebagai penterjemah. Anshory hanya memberikan setetes ilmunya untuk mereka yang kehausan. “Sampaikanlah dari-Ku walau hanya satu ayat”, ya saudara ku Anshory hanya mengajar mengaji untuk para gadis ABG.
Gadis!. Benar, itupun yang telah membuat hati ini kotor dengan prasangka yang jelek. Awalnya hanya satu orang yang dimintai oleh orangtuanya. Dengan rutin Anshory mengajar setiap hari dan memimpin membaca surat Yasin setiap malam Jum’at.
Anshory telah merubah gadis ABG yang sedianya asyik ngeceng di Mall yang kini banyak hadir dikota ini, menjadi gadis yang santun dengan tekad menjadi muslimah yang baik.
Maria bila dalam kisah itu yang mampu dibuat Fahri mencari titik kebenaran walau tidak secara langsung melainkan lewat kepribadian Fahri. Tuan Batros dan Madam Naheed dua orang tua Maria dengan kesadaran penuh akan ikhlas bila Fahri memperistrinya.
Titin dan kedua orangtuanya begitu perhatian terhadap keluarga Anshory. Mungkin inilah balasan mereka terhadap segala apa yang dilakukan Anshory. Keluarga Anshory tak perlu repot bila Idul fitri tiba. Karna segala kebiasaan kita pada hari itu disediakan oleh orangtua Titin termasuk pakaian baru untuk Anshory. Padahal Anshory sering menolak untuk itu.
Dalam dera sakitnya Fahri ditemani Maria, dalam sedihnya Anshory ditemani Titin. Titin telah menganggap Anshory sebagai kakanya. Dan kami tahu keduanya hanya terikat pada satu tali keimanan yang kuat, tidak lebih dari itu walau pada awalnya YA!.
Dengan kecerdasan, kesederhanaan, dan keimanannya Fahri begitu memukau dimata orang yang melihatnya. Tak urung Aisha yang bertemu untuk pertama kalinya di Metro, terus berkembang dengan hadirnya Alicia seorang Wartawan Amerika yang pada akhir cerita telah menjadi Muallaf.
Aisha gadis Turki berdarah Jerman yang kaya, merajuk pada pamannya Eqbal untuk meminta Fahri memperistrinya.
Nurul gadis Indonesia yang juga belajar di Al-Azhar juga meminta pamannya untuk bicara dengan Fahri. Noura dengan derita hidupnya meminta Fahri dalam surat cintanya untuk menjadikan dirinya halal disentuh Fahri, halal untuk dikecup keningnya, halal untuk mengeringkan airmatanya yang setiap hari mengalir deras.
Diah datang bersama keluarganya dari Jawa untuk kost/menyewa rumah disamping rumah Anshory. Rumah itu dulunya ditempati kakanya Anshory yang kini telah pindah. Diah gadis Subhanallah cantiknya juga alim dari Jawa yang membantu keluarganya yang bisa disebut juragan ice cream keliling.
Mungkin inilah takdir Illahi, dan berkah Fahri juga saudaraku Anshory. Keteguhan yang kuat didasari atas iman kepada-Nya. Telah mengantarkan mereka mendapatkan setengah dunia.
Fahri dengan munajat pada Tuhan-Nya dan restu ibunya memilih Aisha sebagai pendamping hidupnya. Anshory dengan kesadaran penuh ini adalah Rahmat dan Berkah menerima permintaan orang tua Diah untuk memperistri anak semata wayang mereka.
Fahri adalah sosok dalam sebuah cerita seorang Habiburahman, yang aku tidak tahu mungkin Habiburahman telah mengenal sosok Fahri di tanah Mesir sana.
Anshory jelas sahabat dan juga saudaraku disini, yang kini telah dikarunia Allah dengan dua anak yang manis. Semoga Dia senantisa memberikan Rahmat dan Berkah-Nya kepada yang senantisa tegar menjaga hati.
“Maka nikmat Tuhan kamu mana kah yang engkau dustakan”
Cibinong, 18 April 2008, “menghadirkan sosok Fahri dan Anshory ”.